Dibanding Pria, Perempuan Lebih Sulit Berhenti Merokok

 Artikel Informasi  Dibanding Pria Dibanding Pria, Wanita Lebih Sulit Berhenti Merokok
Berhenti Merokok
Artikel Informasi Dibanding Pria, Wanita Lebih Sulit Berhenti Merokok - Wanita cenderung lebih sulit berhenti merokok dibandingkan pria. Sebuah penelitian mengatakan bahwa otak perempuan non perokok lebih aktif merespons nikotin dibandingkan otak laki-laki non perokok. Hal ini menciptakan perempuan sulit meninggalkan kebiasaan merokoknya bila sudah terlanjur terkena nikotin.

Ketika seseorang merokok, jumlah reseptor nikotin yang mengikat nikotin dan memperkuat kebiasaan merokok meningkat jumlahnya.

Penelitian sebelumnya menemukan bahwa laki-laki perokok mempunyai lebih banyak reseptor nikotin dibandingkan laki-laki yang bukan perokok. Namun yang mengejutkan, perempuan perokok ternyata mempunyai jumlah reseptor nikotin yang sama ibarat perempuan bukan perokok.

"Pengobatan utama bagi orang yang ingin berhenti merokok yaitu terapi penggantian nikotin, ibarat koyo nikotin atau permen nikotin. Penelitian ini mengatakan bahwa perempuan perokok mungkin akan lebih menerima manfaat dari jenis perawatan lain yang tidak memakai nikotin, misalnya terapi sikap ibarat olahraga atau teknik relaksasi, dan lewat obat-obatan," kata peneliti, Kelly Cosgrove, ajun profesor psikiatri di Yale University School of Medicine ibarat dilansir Fox News, Rabu (4/4/2012).

Cosgrove dan rekan-rekannya memindai otak 52 orang laki-laki dan 58 orang wanita. Sekitar setengah di antara penerima yaitu perokok. Para peneliti mengusut reseptor nikotin di otak memakai penanda radioaktif yang berikatan dengan reseptor yang bertanggung jawab dalam ketergantungan nikotin.

Perokok dalam penelitian ini telah terbebas dari kebiasaan merokok selama seminggu sehingga reseptor nikotinnya sanggup mengikat penanda yang dipakai dalam pemindaian.

Dibanding pria, perempuan lebih sulit berhenti merokok. Para peneliti menemukan bahwa laki-laki perokok mempunyai reseptor nikotin sekitar 16% lebih banyak dalam area otak yang disebut striatum, 17% lebih banyak di otak kecil, dan 13 - 17% lebih banyak di wilayah korteks atau lapisan luar otak dibandingkan dengan laki-laki yang bukan perokok. Perempuan perokok maupun bukan perokok mempunyai jumlah reseptor nikotin yang sama pada bagian-bagian otak tersebut.

Artinya, otak perempuan yang tidak merokok pun mempunyai reseptor nikotin yang sama dengan perempuan perokok. Hal ini menciptakan perempuan lebih sulit berhenti merokok alasannya yaitu secara alamiah otak mereka lebih gampang mencandu rokok ketimbang pria.

Dr Len Horovitz, seorang seorang andal paru di Lenox Hill Hospital di New York baiklah bahwa sebaiknya terapi untuk mengatasi kebiasaan merokok lebih menekankan pada terapi tanpa memakai nikotin.

"Semua nikotin yang ada di dalam badan sanggup diganti, tapi para perokok mungkin masih ingin merokok. Merokok yaitu pereda stres yang efektif bagi sebagian orang. Menghirup napas dalam-dalam yaitu salah satu bab dari kebiasaan merokok. Latihan pernapasan sanggup membantu perokok alasannya yaitu menggandakan tindakan seakan-akan sedang mengisap sebatang rokok," kata Horovitz.

Alasan perbedaan jenis kelamin yang ditemukan dalam penelitian ini masih belum terang diketahui, tapi diduga ada hubungannya dengan tingkat hormon progesteron. Tingkat hormon ini berfluktuasi pada wanita, tergantung pada tahap siklus menstruasi. Jumlah hormon progesteron akan meningkat jauh sehabis ovulasi.

Penelitian yang dimuat jurnal Archives of General Psychiatry ini menemukan tingkat progesteron yang lebih tinggi berkaitan dengan jumlah reseptor nikotin yang lebih rendah. Hal ini mengatakan bahwa progesteron secara tidak pribadi sanggup menghalangi reseptor nikotin - Dibanding Pria, Wanita Lebih Sulit Berhenti Merokok.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Binatang Membantu Perkembangan Mental Anak

Mencegah Alzheimer Dengan Aktif Berativitas

Kandungan Gizi Masakan Bayi Buatan Sendiri Lebih Baik